Rabu, 16 Januari 2013

Anak autis juga bisa belajar

Anak autis juga bisa belajar Saat si kecil terdiagnosa mempunyai bakat khusus berupa autisme, rasa kaget pasti ada di pikiran Anda. begitu juga dengan kehidupannya nanti. Bagaimana caranya belajar? Bagaimana nanti dengan perkembangannya? Apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak autis? Semoga yang di bawah ini dapat membantu menjawab berbagai pertanyaan Anda. 1. Terapi apa yang paling cocok bagi anak autis? Untuk menentukan terapi yang paling cocok bagi anak autis pada awalnya perlu dilakukan asesmen atau pemeriksaan menyeluruh terhadap anak itu sendiri. Asesmen itu bertujuan untuk mengetahui derajat keparahan, tingkat kemampuan yang dimilikinya saat itu, dan mencari tahu apakah terdapat hambatan atau gangguan lain yang menyertai. Biasanya terapi yang diberikan adalah terapi untuk mengembangkan ketrampilan-keterampilan dasar seperti, ketrampilan berkomunikasi, dalam hal ini keterampilan menggunakan bahasa ekspresif (mengemukakan isi pikiran atau pendapat) dan bahasa reseptif (menyerap dan memahami bahasa). Selain itu, terapi yang diberikan juga membantu anak autis untuk mengembangkan ketrampilan bantu diri atau self-help, ketrampilan berperilaku yang pantas di depan umum, dan lain-lain. Dengan kata lain, terapi untuk anak autis bersifat multiterapi. 2. Apa kendala paling sulit pada saat terapi anak autis? Kendala pada terapi anak autis tergantung pada kemampuan unik yang ia miliki, ada anak autis yang dapat berkomunikasi, ada yang sama sekali tidak. Namun sebagian besar anak autis memiliki keterbatasan atau hambatan dalam berkomunikasi sehingga ini menjadi kendala besar saat terapi. Anak belum dapat mengikuti instruksi guru dengan baik. Bahkan anak kadang tantrum saat diminta mengerjakan tugas yang diberikan. Terkadang anak autis suka berbicara, mengoceh, atau tertawa sendiri pada waktu belajar. 3. Bagaimana sikap anak autis saat menjalani terapi? Biasanya anak autis memiliki hambatan atau keterbatasan dalam berkomunikasi. Hal tersebut terlihat dari perilaku mereka yang cenderung tidak melihat wajah orang lain bila diajak berinteraksi, sebagian besar kurang memiliki minat terhadap lingkungan sekitar, dan sebagian cenderung tertarik terhadap benda dibandingkan orang. 4. Apa perubahan yang diharapkan setelah terapi? Pada akhirnya, anak autis diharapkan dapat memiliki berkomunikasi, yang tadinya cenderung bersifat satu arah menjadi dua arah. Dalam artian ada respon timbal balik saat berkomunikasi atau bahasa awamnya “nyambung”. Kemudian perubahan lain yang juga diharapkan adalah memiliki ketrampilan bantu diri, kemandirian, serta menyatu dan berfungsi dengan baik di lingkungan sekitarnya. Hasil yang menggembirakan tentu sangat diharapkan orang tua anak penderita autis. Ini terlihat bila anak tersebut sudah dapat mengendalikan perilakunya sehingga tampak berperilaku normal, berkomunikasi dan berbicara normal, serta mempunyai wawasan akademik yang cukup sesuai anak seusianya. 5. Seberapa cepat perubahan akan terlihat? Perubahan atau kemajuan yang terjadi tentunya bersifat individual. Hal tersebut tergantung pada hasil asesmen, gaya belajar anak autis, dan intensitas dari terapi atau pendidikan yang diberikan serta kerjasama antara orangtua, pengasuh anak dengan para pendidik, terapis atau ahli kesehatan 6. Bagaimana mengenai pendidikan anak autis? Perlu diketahui bahwa setiap anak autis memiliki kemampuan serta hambatan yang berbeda-beda. Ada anak autis yang mampu berbaur dengan anak-anak ’normal’ lainnya di dalam kelas reguler dan menghabiskan hanya sedikit waktu berada dalam kelas khusus namun ada pula anak autis yang disarankan untuk selalu berada dalam kelas khusus yang terstruktur untuk dirinya. Anak-anak yang dapat belajar dalam kelas reguler tersebut biasanya mereka memiliki kemampuan berkomunikasi, kognitif dan bantu diri yang memadai. Sedangkan yang masih membutuhkan kelas khusus biasanya anak autis dimasukkan dalam kelas terpadu, yaitu kelas perkenalan dan persiapan bagi anak autis untuk dapat masuk ke sekolah umum biasa dengan kurikulum umum namun tetap dalam tata belajar anak autis, yaitu kelas kecil dengan jumlah guru besar, dengan alat visual/gambar/kartu, instruksi yang jelas, padat dan konsisten, dsb). 7. Bagaimana metode belajar yang tepat bagi anak autis? Metode belajar yang tepat bagi anak autis disesuaikan dengan usia anak serta, kemampuan serta hambatan yang dimiliki anak saat belajar, dan gaya belajar atau learning style masing-masing anak autis. Metode yang digunakan biasanya bersifat kombinasi beberapa metode. Banyak, walaupun tidak semuanya, anak autis yang berespon sangat baik terhadap stimulus visual sehingga metode belajar yang banyak menggunakan stimulus visual diutamakan bagi mereka. Pembelajaran yang menggunakan alat bantu sebagai media pengajarannya menjadi pilihan. Alat bantu dapat berupa gambar, poster-poster, bola, mainan balok, dll. Pada bulan-bulan pertama ini sebaiknya anak autis didampingi oleh seorang terapis yang berfungsi sebagai guru pembimbing khusus. 8. Pengajar seperti apa yang dibutuhkan bagi anak autis? Pengajar yang dibutuhkan bagi anak autis adalah orang-orang yang selain memilii kompetensi yang memadai untuk berhadapan dengan anak autis tentunya juga harus memiliki minat atau ketertarikan untuk terlibat dalam kehidupan anak autis, memiliki tingkat kesabaran yang tinggi, dan kecenderungan untuk selalu belajar sesuatu yang baru karena bidang autisma ini adalah bidang baru yang selalu berkembang. 9. Suasana belajar seperti apa yang dibutuhkan anak autis? Tergantung dengan kemampuan dan gaya belajar masing-masing anak autis. Ada anak autis yang mencapai hasil yang lebih baik bila dibaurkan dengan anak-anak lain, baik itu anak ’normal’ maupun anak-anak dengan kebutuhan khusus lainnya. Ada anak autis yang lebih baik bila ditempatkan pada suasana belajar yang tenang, tidak banyak gangguan atau stimulus suara, warna, atau hal-hal lain yang berpotensi mengalihkan perhatian. 10. Apa saja yang diajarkan dalam pendidikan anak autis? Komunikasi (bahasa ekspresif dan reseptif), ketrampilan bantu diri, ketrampilan berperilaku di depan umum, setelah itu dapat diajarkan hal lain yang disesuaikan dengan usia dan kematangan anak serta tingkat inteligensi,. 11. Sampai umur berapa tahun anak autis mendapat pendidikan khusus? Semua itu sekali lagi tergantung pada kemampuan anak, gaya belajar anak, serta sejauh mana kerjasama antara orangtua atau pengasuh dengan pendidik atau terapis. 12. Umur berapa anak sudah dapat dilepas masuk ke sekolah umum? Lagi-lagi hal ini tergantung pada kemampuan anak. 13. Berapa besar kemungkinan anak autis berbaur dengan murid lain di sekolah biasa? Kemungkinan selalu ada. Akan tetapi semua itu tergantung pada kemampuan anak autis tersebut dan apakah sistem pendidikan atau fasilitas di sekolah ’biasa’ itu mendukung berbaurnya anak autis dengan murid-murid lain dalam kelar reguler (http://www.parenting.co.id)

Kamis, 10 September 2009

Mohammad Natsir adalah seorang tokoh kunci dan pejuang yang gigih mempertahankan negara kesatuan RI, yang sekarang menjadi pembicaraan hangat karena melemahnya rasa kesatuan bangsa sebagai akibat reformasi yang kebablasan. Berkali-kali dia menyelamatkan Republik dari ancaman perpecahan. Ia lah yang pada tahun 1949 berhasil membujuk Syafruddin Prawiranegara, yang bersama Sudirman merasa tersinggung dengan perundingan Rum-Royen, untuk kembali ke Jogya dan menyerahkan pemerintahan kembali kepada Sukarno Hatta. Dia jugalah kemudian yang berhasil melunakkan tokoh Aceh, Daud Beureuh yang menolak bergabung dengan Sumatera Utara pada tahun 1950, terutama karena keyakinan Daud Beureuh akan kesalehan Natsir, sikap pribadi yang tetap dipegang teguh sampai akhir hayatnya.

Natsir juga seorang tokoh pendidik, pembela rakyat kecil dan negarawan terkemuka di Indonesia pada abad kedua puluh. Kemudian ketika kegiatan politiknya dihambat oleh penguasa, dia berjuang melalui dakwah dengan membentuk Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dimana dia berkiprah sampai akhir hayatnya membangun masyarakat di kota-kota dan pedalaman terpencil.

Natsir dilahirkan di Alahan Panjang, Solok pada tanggal 17 Juli 1908. Kedua orang tuanya berasal dari Maninjau. Ayahnya Idris Sutan Saripado adalah pegawai pemerintah dan pernah menjadi Asisten Demang di Bonjol. Natsir adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Dia kemudian diangkat menjadi penghulu atau kepala suku Piliang dengan gelar Datuk Sinaro Panjang di Pasar Maninjau.

Natsir pada mulanya sekolah di Sekolah Dasar pemerintah di Maninjau, kemudian HIS pemerintah di Solok, HIS Adabiyah di Padang, HIS Solok dan kembali HIS pemerintah di Padang. Natsir kemudian meneruskan studinya di Mulo Padang, seterusnya AMS A 2 (SMA jurusan Sastra Barat) di Bandung. Walaupun akan mendapatkan beasiswa seperti di Mulo dan AMS untuk belajar di Fakultas Hukum di Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Rotterdam, dia tidak melanjutkan studinya dan lebih tertarik pada perjuangan Islam.

Pendidikan agama mulanya diperoleh dari orang tuanya, kemudian ia masuk Madrasah Diniyah di Solok pada sore hari dan belajar mengaji Al Qur’an pada malam hari di surau. Pengetahuan agamanya bertambah dalam di Bandung ketika dia berguru kepada ustaz Abbas Hasan, tokoh Persatuan Islam di Bandung. Kepribadian A Hasan dan tokoh-tokoh lainnya yang hidup sederhana, rapi dalam bekerja, alim dan tajam argumentasinya dan berani mengemukakan pendapat tampaknya cukup berpengaruh pada kepribadian Natsir kemudian. Natsir mendalami Islam, bukan hanya mengenai teologi (tauhid), ilmu fiqih (syari’ah), tafsir dan hadis semata, tetapi juga filsafat, sejarah, kebudayaan dan politik Islam. Di samping itu ia juga belajar dari H. Agus Salim, Syekh Ahmad Soorkati, HOS Cokroaminoto dan A.M. Sangaji, tokoh-tokoh Islam terkemuka pada waktu itu, beberapa di antaranya adalah tokoh pembaharu Islam yang mengikuti pemikiran Mohammad Abduh di Mesir. Pengalaman ini semua memperkokoh keyakinan Natsir untuk berjuang dalam menegakkan agama Islam.

Pengalaman organisasinya mulai ketika dia masuk Jong Islamieten Bond (JIB) di Padang. Di Bandung dia menjadi wakil ketua JIB pada 1929-1932, menjadi ketua Partai Islam Indonesia cabang Bandung, dan pada tahun empat puluhan menjadi anggota Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI), cikal bakal partai Islam Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) yang kemudian dipimpinnya. Ia menjalin hubungan dengan tokoh politik seperti Wiwoho yang terkenal dengan mosinya “Indonesia Berparlemen” kepada pemerintah Belanda, dengan Sukarno, dan tokoh politik Islam lainnya yang kemudian menjadi tokoh Masyumi, seperti Kasman Singodimejo, Yusuf Wibisono dan Mohammad Roem.

Berbeda dengan tokoh pergerakan lainnya, sejak semula Natsir juga bergerak di bidang dakwah untuk membina kader. Pada mulanya ia aktif dalam pendidikan agama di Bandung, kemudian mendirikan lembaga Pendidikan Islam (Pendis) yang mengasuh sekolah dari TK, HIS, Mulo dan Kweekschool yang dipimpinnya 1932-1942. Di samping itu ia rajin menulis artikel di majalah terkemuka, seperti Panji Islam, Al Manar, Pembela Islam dan Pedoman Masyarakat. Dalam tulisannya dia membela dan mempertahankan Islam dari serangan kaum nasionalis yang kurang mengerti Islam seperti Ir. Sukarno dan Dr. Sutomo. Khusus dengan Sukarno, Natsir terlibat polemik hebat dan panjang antara tahun 1936-1940an tentang bentuk dan dasar negara Indonesia yang akan didirikan. Natsir menolak ide sekularisasi dan westernisasi ala Turki di bawah Kemal Attaturk dan mempertahankan ide kesatuan agama dan negara. Tulisan-tulisannya yang mengeritik pandangan nasionalis sekuler Sukarno ini kemudian dibukukan bersama tulisan lainnya dalam dua jilid buku Capita Selecta.

Kegiatan politik Natsir menonjol sesudah dibukanya kesempatan mendirikan partai politik pada bulan November 1945. Bersama tokoh-tokoh Islam lainnya seperti Sukiman dan Roem, dia mendirikan partai Islam Masyumi, menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan anggota Badan Pekerja KNIP. Dalam kabinet Syahrir I dan II (1946-1947) dan dalam kabinet Hatta 1948 Natsir ditujuk sebagai Menteri Penerangan. Sebagai menteri, tanpa rasa rendah diri dia menerima tamunya di kantor menteri dengan pakaian amat sederhana, ditambal, sebagaimana ditulis kemudian oleh Prof. George Kahin, seorang ahli sejarah Indonesia berkebangsaan Amerika yang waktu itu mengunjunginya di Yogya.

Ketika terbentuknya negara RIS sebagai hasil perjanjian KMB pada akhir Desember 1949, Natsir memelopori kembali ke negara kesatuan RI dengan mengajukan Mosi Integral kepada parlemen RIS pada tanggal 3 April 1950. Bersama dengan Hatta yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri RIS, ide ini tercapai dengan dibentuknya negara kesatuan RI pada 17 Agustus 1950. Mungkin atas jasanya itu, Natsir ditunjuk sebagai Perdana Menteri oleh Sukarno, atau juga karena pengaruhnya yang besar, sebagaimana kemudian terlihat dari hasil Pemilu 1955.

Tidaklah mudah menjadi Perdana Menteri dalam keadaan sulit ketika itu. Hampir di semua daerah terdapat perasaan bergalau akibat perang yang menimbulkan rasa ketidak-puasan di mana-mana. Beberapa tokoh yang selama ini berjuang untuk Republik berontak, seperti Kartosuwiryo dan kemudian Kahar Muzakkar. Pengikut RMS dan Andi Azis yang berontak ke pada Hatta masih belum tertangani. MMC (Merapi Merbabu Complex) yang beraliran komunis berontak di Jawa Tengah. Daud Beureuh menolak menggabungkan Aceh ke dalam propinsi Sumatera Utara. Walaupun kemudian Natsir pada bulan Januari 1951 berhasil membujuk Daud Beureuh yang sengaja berkunjung ke Aceh sesudah Assaat dan Syafruddin gagal meyakinkannya, namun Daud Beureuh meninggalkan pemerintahan dan pulang kekampungnya di Pidie. Dengan berat hati Natsir terpaksa membekukan DPR Sumatera Tengah dan mengangkat gubernur Ruslan Mulyoharjo sebagai gubernur. Dalam waktunya yang pendek (September 1950-April 51) Natsir membawa RI dari suasana revolusi ke suasana tertib sipil dan meletakkan dasar politik demokrasi dengan menghadapi bermacam kendala, termasuk perbedaan pendapat dengan Sukarno dan partainya PNI.

Sesudah meletakkan jabatannya di pemerintahan, Natsir aktif dalam perjuangan membangun bangsa melalui partai dan menjadi anggota parlemen. Pada pemilihan umum 1955 Partai Islam Masyumi yang dipimpinnya mendapat suara kedua terbanyak sesudah PNI walaupun memperoleh kursi yang sama dengan PNI. Pada sidang-sidang konstituante antara 1956-1957 dengan gigih dia mempertahankan pendiriannya untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara. Sebelum sidang konstituante ini berhasil menetapkan Anggaran Dasar Negara, Sukarno memaklumkan kembali ke UUD 1945 dan membubarkan parlemen serta konstituante hasil pemilu. Natsir menjadi penantang ide dan politik Sukarno yang gigih dan teguh.

Penantangannya kepada Sukarno terutama karena Sukarno kemudian berubah menjadi pemimpin yang otoriter dan menggenggam kekuasaan di tangannya sendiri dengan bekerjasama dengan Partai Komunis Indonesia dan partai lain yang mau menuruti kemauan Sukarno. Bukan saja Natsir, Hatta pun malah juga terdesak. Hatta meletakkan jabatannya sebagai usaha mengembalikan presiden Sukarno ke jalur yang benar, tapi hal itu malah makin membuat Sukarno leluasa. Natsir makin terjepit karena pengaruh PKI yang anti Islam.

Pergolakan politik akibat perebutan hegemoni Islam dan non Islam yang mencuat secara demokratis di parlemen diikuti pula oleh kekisruhan ekonomi dan politik secara tidak terkontrol di luar parlemen. Hal ini berujung dengan munculnya kegiatan kedaerahan yang berpuncak pada pemberontakan daerah dan PRRI pada tahun 1958. Natsir yang dimusuhi Sukarno bersama Sjafruddin Prawiranegara dan Burhanuddin Harahap melarikan diri dari Jakarta dan ikut terlibat dalam gerakan itu. Karena itu partai Masyumi dan PSI Syahrir dipaksa membubarkan diri oleh Sukarno.

Ketika PRRI berakhir dengan pemberian amnesti, Natsir bersama tokoh lainnya kembali, namun kemudian ia dikarantina di Batu, Jawa Timur (1960-62), kemudian di Rumah Tahanan Militer Jakarta sampai dibebaskan oleh pemerintahan Suharto tahun 1966. Ia dibebaskan tanpa pengadilan dan satu tuduhanpun kepadanya.

Walaupun tidak lagi dipakai secara formal, Natsir tetap mempunyai pengaruh dan menyumbang bagi kepentingan bangsa, misalnya ikut membantu pemulihan hubungan Indonesia dengan Malaysia. Melalui hubungan baiknya, Natsir menulis surat pribadi kepada Perdana Menteri Malaysia Tungku Abdul Rahman guna mengakhiri konfrontasi Indonesia-Malaysia yang kemudian segera terwujud.

Karena tidak mungkin lagi terjun ke politik, Natsir mengalihkan kegiatannya, berdakwah melalui perbuatan nyata dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Pada tahun 1967 dia mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang aktif dalam gerakan amal. Lembaga ini dengan Natsir sebagai tokoh sentral, aktif berdakwah bukan saja kepada masyarakat dan para mahasiswa di Jakarta dan kota lainnya, tapi juga di daerah terasing, membantu pendirian rumah sakit Islam dan pembangunan mesjid, dan mengirim mahasiswa tugas belajar mendalami Islam di Timur Tengah.

Kegiatan dakwahnya ini telah menyebabkan hubungannya dengan masyarakat luas tetap terpelihara, hidup terus sebagai pemimpin informal. Kegiatan ini juga membawa Natsir menjadi tokoh Islam terkenal di dunia internasional dengan menjadi Wakil Presiden Kongres Islam se dunia (Muktamar Alam Islami) yang berkedudukan di Karachi (1967)dan anggota Rabithah Alam Islami (1969) dan anggota pendiri Dewan Masjid se Dunia (1976) yang berkedudukan di Mekkah. Di samping bantuan para simpatisannya di dalam negeri, badan-badan dunia ini kemudian banyak membantu gerakan amal DDII, termasuk pembangunan Rumah Sakit Islam di beberapa tempat di Indonesia. Pada tahun 1987 Natsir menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic Studies, London.

Namun kebebasannya hilang kembali karena ia ikut terlibat dalam kelompok petisi 50 yang mengeritik Suharto pada tahun 1980. Ia dicekal dalam semua kegiatan, termasuk bepergian ke luar negeri. Sejak itu Natsir aktif mengendalikan kegiatan dakwah di kantor Dewan Dakwah Salemba Jakarta yang sekalian berfungsi sebagai masjid dan pusat kegiatan diskusi, serta terus menerus menerima tamu mengenai kegiatan Islam.

Atas segala jasa dan kegiatannya pada tahun 1957 Natsir memperoleh bintang kehormatan dari Republik Tunisia untuk perjuangannya membantu kemerdekaaan Negara-negara Islam di Afrika Utara. Tahun 1967 dia mendapat gelar Doktor HC dari Universitas Islam Libanon dalam bidang politik Islam, menerima Faisal Award dari kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1980 untuk pengabdiannya pada Islam dan Dr HC dari Universitas Sains dan Teknologi Malaysia pada tahun 1991 dalam bidang pemikiran Islam.

Pada tanggal 7 Februari 1993 Natsir meninggal dunia di Jakarta dan dikuburkan di TPU Karet, Tanah Abang. Ucapan belasungkawa datang tidak saja dari simpatisannya di dalam negeri yang sebagian ikut mengantar jenazahnya ke pembaringan terakhir, tapi juga dari luar negeri, termasuk mantan Perdana Menteri Jepang, Takeo Fukuda yang mengirim surat duka kepada keluarga almarhum dan bangsa Indonesia.

Walaupun telah tiada, buah karya dan pemikirannya dapat dibaca dari puluhan tulisannya yang sudah beredar, mulai dari bidang politik, agama dan sosial, di samping lembaga-lembaga amal yang didirikannya. Perkawinannya dengan Nur Nahar, aktifis JIB pada tahun 1934 di Bandung telah memberinya enam orang anak.

Sumber : http://heriman.wordpress.com/2007/02/27/mohammad-natsir/

Jumat, 14 Agustus 2009

Kembali ke Pangkuan-Nya tanpa Beban
Justine Raharjo

PAGI itu aku berjalan santai di sekitar rumahku. Udara pagi yang begitu segar ditambah nyanyian merdu para burung seakan menambah semangat diriku. Suasana di daerah itu memang nyaman. Jalan-jalan dipayungi pohon-pohon yang tumbuh lebat. Entah mengapa, tubuhku sangat ringan hari ini. Membuatku benar-benar menikmati perjalanan.

Ah, alangkah indahnya hidup ini! Kuhirup dalam-dalam udara pagi yang segar sampai puas. Kurentangkan kedua tanganku, ingin terbang saja rasanya. Sungguh tak ada satu pun beban yang kurasakan hari ini. Aku hanya mengumbar senyum paling lebar untuk menunjukkan indahnya dunia.

"Pagi, Nek!" sapaku pada Nek Retno.

"Ryan? Wah, ceria sekali kamu hari ini, Nak!"

"He he he! Hidup kan cuman sekali Nek, jadi harus dinikmati dong!"

Nenek hanya tertawa kecil. Kugandeng tangannya untuk membantunya menyeberang jalan. Jalan memang tidak terlalu ramai, tapi Nek Retno adalah seorang yang buta dan sebatang kara. Kecelakaan 50 tahun silam membuatnya buta dan kehilangan suami. Dia selalu menungguku dengan setia. Dia sudah kuanggap seperti nenekku sendiri.

"Makasih ya, Nak!" katanya sembari menepuk tanganku yang memegang tangannya sesampainya di seberang.

"Sama-sama, Nek!" balasku. Aku pun meninggalkannya.

Dari kejauhan aku bisa melihat masih banyak orang di halte. Ini menandakan bahwa bus yang dikemudikan Mas Djiman belum datang. Sesampainya di halte, aku berdiri menghadap jalan, menunggu bus sembari tersenyum. Tiba-tiba senyumku langsung pudar, kurogoh kantong belakang celana, dan...

"Dompetku!!!" teriakku, kupikir aku akan mengejutkan orang sehalte.

Tapi, tak satu pun di antara mereka yang memperhatikanku. Bahkan, melihat ke arahku saja tidak. Tidak ada sepuluh menit yang lalu, aku berbicara dalam hati tentang kematian rasa kepedulian mereka. Ternyata, aku mengalaminya lagi.

"Mu.. mungkin ketinggalan di kamar!" kataku panik sembari tetap meraba-raba tubuhku berusaha meyakinkan diri bahwa dompetku benar-benar tidak ada padaku. Aku bergegas lari kembali ke rumah.

Kulewati lagi Nek Retno, mungkin dia menyadari bahwa aku kembali. Nek Retno memang hebat. Kendati buta, dia seperti punya indra keenam. Namun, aku sudah tak ada waktu untuk menyapanya lagi. Dia hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala. Kuperlebar langkah kakiku, berusaha semakin cepat sampai di rumah. Tampaknya, rencana tiba ke kantor dengan penampilan terbaik pun akan gagal hari ini. Keringat sudah mengucur terlalu deras.

Kulewati kampungku, sebuah bendera putih dengan palang merah dipasang di tembok sebelum masuk kampung. Aku belum melihatnya tadi pagi, siapa yang mati hari ini? Ah sudahlah, aku juga sudah tak ada waktu untuk terlalu peduli. Lagi pula, ingin rasanya berhenti jadi orang baik. Ibu-ibu belum selesai bergosip rupanya, mengenakan pakaian berkabung pun masih bisa bergosip seperti itu. Malah semakin ramai saja.

Aduh padat sekali kampung ini dengan manusia, masuk saja sepertinya susah, kupanjat pohon supaya aku bisa langsung naik ke kamarku di loteng. Yah!!! Kupegang dompetku erat-erat.

"Akhirnya, kutemukan kamu, sayang!" sembari kuciumi dompet kulit itu.

Aku keluar kamar, kuturuni loteng untuk menuju ruang tamu. Susah juga naik pohon setelah sekian lama berhenti melakukannya. Tampaknya, tubuhku pun mulai menua. Tapi, tunggu sebentar! Ada apa ini?! Mengapa ramai sekali ruang tamu ini?! Ibu?! Kenapa Ibu menangis tersedu?! Aku bergegas menuruni tangga. Kugapai Ibuku.

''Ibu, ada apa ini?!" kataku panik.

Ibu tak menjawabku, dia terus-menerus menangis. Kakak kemudian membuka kain batik yang menutupi mayat itu. Astaga!!!! Itu aku!!!! Aku telah meninggal?! Kepalaku tiba-tiba sakit sekali, kuremas rambutku. Apa yang telah terjadi?!! Aku langsung terduduk di samping ibuku. Kupejamkan mataku. Aku mengingatnya!!! Aku mengingatnya!!! Aku mengingatnya!!! Kataku berulang-ulang sembari menitikkan air mata. Bukankah semalam sebuah mobil yang melaju kencang menabrakku ketika baru pulang kerja.

Aku terduduk di pinggir pantai. Kupandangi mentari yang segera kembali ke peraduannya. Sentuhan hangat mentari di tubuhku oleh cahayanya kuterima dengan senyum mengembang di wajahku. Ternyata, aku sudah menyelesaikan semuanya dengan baik. Aku sudah lakukan dan jalani kehidupanku dengan sebaik-baiknya. Tidak kusangka seorang buta seperti Nek Retno benar-benar peka terhadapku, kendati telah tak bernyawa. Aku juga baru menyadari kenapa tidak ada yang memperhatikan kepanikanku di halte. Aku tersenyum dengan perasaan tenang dan bahagia.

Cahaya mentari itu semakin terang dan semakin terang. "Aku kembali!" kataku. Tubuhku mulai terangkat perlahan. Nyaman sekali rasanya. Seperti sedang berada dalam buaian hangatnya kasih. Aku pulang dengan tanpa beban. Tanpa beban! (*)

Penulis adalah pelajar Universitas Kristen Petra
[Jawa Post, Senin, 25 Mei 2009 ]
Elegi Cinta Seorang Pengamen
Oleh: Riza Multazam Luthfy

Pagi itu, setelah embun merayap ke angkasa, cahaya mentari menerobos ke seluruh pori-pori. Aorta, otot, juga otakku merasakan belaian cahaya itu penuh hangat. Ciuman mesranya membekas pada keningku yang dingin seusai disapu malam. Rambutku yang terurai juga disisir penuh sayang. Angin pagi menyentuh ubun-ubun seraya berbisik bahwa sudah saatnya aku terbangun, menyambung mimpi esok hari, serta beraktifitas seperti hari-hari kemarin yang sangat membosankan.

Seperti hari-hari biasa, pada hari minggu yang cerah itu, wajah kumalku mengajak untuk memelas dan memeras kasih sayang mereka yang berlalu-lalang. Sambil membawa alat musik yang tersusun dari beberapa tutup botol minuman, aku nyanyikan sebuah lagu idola para kawula muda. Juga idola pengamen jalanan sepertiku. Lagu "Walau habis terang", telah membuat orang terperdaya dan tersihir, sehingga merekapun rela menerogoh saku dan menyumbangkan beberapa rupiah. Sebenarnya, aku tak hafal benar lirik lagu itu. Toh, tanpa menghafal seluruhnya, aku sudah bisa berkicau seperti kicauan burung beo yang baru saja mandi.

Dengan bermodal suara ala kadarnya, ku tunjukkan bakat yang sebenarnya tak pernah ku pendam sejak lahir. Ini adalah sebuah keterpaksaan, sekaligus jalan kehidupan yang harus ku telusuri. Menjadi pengamen jalanan adalah impian terburuk semua orang. Juga bagi diriku sendiri. Tapi apa boleh buat. Yang penting lambung masih bisa diajak kompromi. .

Perempatan jalan raya dan lampu merah ini telah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi teman terbaikku dalam mengarungi hidup yang serba rumit, sempit, dan pahit. Aku tak tahu, mungkin inilah garis takdir yang harus ku jalani. Entah sampai kapan. Yang pasti otakku hanya berpikir kalau tiap hari aku butuh makan. Tanpa berpikir berganti penampilan atau mengikuti mode, layaknya anak muda sekarang.

Mungkin, minggu itu adalah hariku yang paling ungu dibanding minggu-minggu yang lain. Betapa tidak, ketika aku ngamen di depan sebuah mobil berplat merah, ada sorot mata tajam yang menatapku. Sorot mata yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ya, sepasang mata yang bisa menghayati lagu indahku. Detak jantung yang sebelumnya berjalan normal, tiba-tiba gelagapan. Karena saking cepatnya, akupun dibuat kerepotan. Keringat dingin menetes dari kedua pelipis dan membasahi kedua pipiku yang lugu. Bibir tipisku tak bisa melanjutkan perjuangan. Otakku kehilangan kesadaran. Nyanyianku berhenti sebelum saatnya. Kedua tanganku terasa diikat dari belakang. Aku tak habis pikir. Ada apa gerangan? Apa hanya karena tatapan matanya yang begitu silau itu yang akhirnya membuatku seperti kehilangan kesadaran.

"Ini mas, makasih ya. Lagunya enak banget."

Dengan mengulurkan tangannya yang lembut. Juga jemari yang lentik. Ia memberikan uang seribu rupiah dan senyuman manis, yang sampai saat ini masih membekas pada dinding hatiku. Senyuman itulah yang membuat gairah hidupku muncul kembali dan bisa bertahan melawan kerasnya kehidupan kota yang begitu keras. Tapi, senyuman itu pula yang menghancurleburkan kehidupanku, hingga relung yang terdalam.

Tanpa sengaja, tanganku yang lusuh itu menyentuh tangannya yang sangat halus. Terasa ada getaran dan sengatan yang belum pernah ku rasakan. Akupun tak sadar dengan apa yang telah ku perbuat.

Setelah peristiwa itu, setiap hari aku banyak melamun. Hanya karena ingin bertemu kembali dengan gadis yang membuat hati bergetar. Hingga usiaku yang ke-20 ini, belum pernah aku merasakan sebuah rasa yang begitu dahsyat. Rasa yang sempat mengguncang jiwa. Apakah ini yang dinamakan cinta?.

Penulis adalah pelajar UIN Malang (Jawa Post, Senin, 18 Mei 2009 )

Minggu, 10 Agustus 2008

Curahan Unek-unek ....

Obrolan di Warung Kopi

Mula-mula kami hanya berbincang soal ketidakberdayaan manusia akibat ulah manusia yang lain. Pembicaraan tengah hari boong itu santai. Sambil minum kopi, es jus instan, dan merokok. Itu biasa saya lakukan dengan beberapa kawan untuk sekedar menghabiskan siang, sebelum kami sama-sama berbaris dan berdoa saat apel sore.
Pembicaraa kemudian berkembang ke dalam lingkup kerja kantor. Dimulai dari seringnya terjadi kasus pelanggaran jam masuk (dengan berbagai alasan yang sama sekali tidak rasional), sistematika kerja yang tak terstandart (menuruti kata hati sendiri-sendiri karena merasa lebih wahid dan lebih punya hak), kebijakan-kebijakan yang kurang bertaring, hingga soal penghonoran (yang semua beranggapan dirinya lebih bekerja berat dari yang lain dan paling berjasa atas kerjanya sehingga layak menerima amplop yang lebih tebal ketimbang yang lain).
Karena makin gayeng, masing-masing dari kami akhirnya terpaksa serius ingin menelusuri akar masalah dari semua itu. Masing-masing mengeluarkan jurus-jurus argumentasi. Yang maqom-nya sudah agak kekasi-kasian mengutif dalil-dalil kepegawaian, bahkan ayat-ayat Tupoksipun diutarakan sehingga terlihat seperti berwibawa dan berwawasan linuwih. Yang maqom-nya masih “arek wingi sore” tak kalah lantang mengumandangkan logika-logika berfikir yang tambah membingungkan.
Pada obrolan sesi terakhir, yang Sarana, yang Jiran, yang TU, yang Produksi sama-sama bingung. Disedunya kopi dan es jus instan. Dihisapnya batang-batang rokok yang mulai memendek itu dalam-dalam. Sorot mata kami secara bebarengan dialihkan ke sosok yang langsing semampai, rambut kemerah-merahan, kulit halus mulus, dan paras cuantik yang kebetulan melintas. Dam tanpa berani mengeluarkan kata-kata.
Seorang dari kami berucap dengan nada penuh memelas, mengirungi tenggelamnya sosok pandang kami. “ Kamu sih masih enak bisa ikut shotting terus. Dapat tambahan dana tiap bulan. Kalau seperti aku ini dapat tambahan apa?” sambil memandangi teman-teman dari produksi. Rupanya kawan yang satu ini dari TU seperti saya. “Kamu khan juga diajak shotting, kalaupun tidak khan masih dapat pemerataan”, seloroh teman dari Produksi.
Dengan tidak kalah ketus temanku temanku tadi berupaya menangkal selorohnya. “Betul…, diikutkan shotting hanya untuk pelipur saja khan! Belum tentuempat bulan sekali, tapi menjadi bahan obrolan di mana-mana setiap hari lagi.” Karena melihat itu sayapun ikut-ikutan nimbrung mengeluarkan kalimat yang dari tadi terkotak rapat. “Kalau menurutku itu bukan pemerataan tapi penghinaan, bagaimana tidak yang lain dapat ratusan ribu, kita-kita ditaburi ribuhan saja agar tak banyak bicara” ucapku yang aku buat-buat seperti candaan. “Gak ikut kerja kok minta banyak, lagian itu sesuai Tupoksi kita”. Lagi-lagi ayat-ayat tupoksi didendangkan.
Perdebatan menjadi tambah serius. Masing-masing kubu lagi-lagi beradu argumentasi. Saling merasa benar. Saling merasa Aku kok. Seorang Jira berupaya menengahi. Berusaha bersikap netral walau sebenarnya memihak. “Begini, zaman wis ngene ko masih mempermasalahkan Tupoksi. Kalau berbicara itu pasnya puluhan tahun yang lalu, tidak sekarang di”guyu” wong Jepang. Kapan majunya memperdebatkan itu terus. Memang kamu kerjanya shotting karena produksi, Jiran kerjanya ada, TU dikantor ada kerjaan, Sarana itu banyak alat yang rusak. Yang beda, kalua Produksi mengerjakan tupoksinya saja dapat bayaran apa lagi yang bukan tetapi yang lain tidak. Kalau honor berdasar kerja atau tidak, seharusnya kalau yang membuat daftar gaji dibayar, yang pergi-pergi ke KPPN itu dibayar, yang ngurus pegawai itu dibayar, yang membetulkan alat itu dibayar, atau lainnya. Ingat honor di luar gaji ini. Dan celakanya kasi-kasi kita kelihatannya tidak memikirkan bagaimana anak buahnya agar mendapat tambahan penghasilan di luar gaji seperti produksi. Wong tiap program dia dapat, meski terkait atau tidak terkait. Bahkan kalau merasa kecil dari yang lain saja dia protes minta ditambah.
Obrolan di warung kopi itu tensinya meningkat. Semua mengajukan formula-formula. Mulai yang menggunakan prosen-prosenan sampai menyarankan cari tambahan di luar dengan sedikit menghalalkan korupsi waktu. Semua bertambah ngelantur, semua bertambah tak berarah. Dan puntung-puntung rokokpun bertambah berserakan. Gelas-gelas kosong bertambah berdekatan.
Obrolan di warung Kopi berakhir. Yang Jiran, yang Produksi, Yang TU, juga yang Sarana sama-sama bertambah bingung. Saking bingungnya ada yang akan menjadi sales saja, ada yang ingin ke habitatnya di depan siswa, ada yang berharap terkena rolling, bahkan ada yang ingin jadi Satpam saja. Secara tak sadar mereka menyimpulkan sendiri-sendiri pemerataan di luar gaji yang selalu didengungkan: belum jalan seperti angan-angan. Dan dari mereka-mereka mulai mencari harapan sendiri dengan cara sendiri-sendiri.

Dari:
EP (orang ngelantur agar tidak tambah ngelantur)

Kamis, 31 Juli 2008

Sebabnya Kerbau Tidak Bergigi Depan
Konon dahulu,di kala dunia ini masih mengalami serba sempurna,sang kerbau termasuk juga binatang yang masih sempurna giginya.Kerbau itu masih mempunyai gigi geraham dan gigi depan.
Konon suatu ketika,Kerbau yang besar dihalau dari belakang oleanak kecil.Kerbau itu dihalau dengan cambuk untuk pergi ke sawah.
Si anak kecil mengikuti dari belakang dan apabila Kerbau agak lengah sedikit dan terlambat,melayanglah satu pukulan cambuk di atas punggungnya .Selanjutnya,kerbau berjalan lagi dengan cepatnya.
Peristiwa itu disaksikan pula oleh ular.Amatlah jengkel hati ular melihat Kerbau yang begitu besar badannya,tetapi tidak dapat berbuat apa-apa terhadap seorang manusia padahal manusia itu masih kecil.
Dipangilnya kerbau,”Hai,Kerbau!Apa sebab kau dapat dianiaya manusia sekecil itu?”Kerbau menjawab.”Padahal badanmu begitu besar,”lanjut ular,”Menga[pa tak memberikan perlawanan?”

Kerbau menjawab,”Sekalipun manusia itu
lebih kecil dari badanku,manusia itu mempunyai satu kekuatan yang tidak dapat dikalahkan,Ular.”Kerbau sendiri
tidak mengerti kekuatan apakah namanya yang demikian besarnya itu.
Ular sawahmenjawab seakan akan mengejek kepada Kebau bahwa andaikan ia diperlakukan sedemikian itu niscaya ia akan membelitnya.
”Aku akan membelitnya kemudian aku gigit manusia itu sampai mati.”Jawab Kerbau,”Baiklah aku akan lihat buktinya nanti.”Tiada berapalamanya kemudian tertangkaplah ular oleh manusia.Ular itu dimasukkan dalam sebuah sangkar.
Melihat ular sawah yang ada didalam sangkar itu,Kerbau kemudian kembali memperingatkan ular akan kata-katanya.Akan tetapi,ular hanya menjawab sebagaimana jawaban Kerbau dahulu.
”Baiklah akan aku lihat buktinya nanti.”Sang Kerbau ttertawa saja mendengar jawaban ular itu.Demikian gelak tawa kerbau itu sehingga tidak dirasa gigi depannya bagian atas tanggal dan jatuh satum persatu.Itulah sebabnya sampai sekarang ini Kerbau tidak bergigi depan lagi.

Jumat, 25 Juli 2008

MAHATMA GANDHI

MAHATMA GANDHI

Mahatma Gandhi disebut bapak orang India.Dia membantu rakyat India untuk merdeka dari penjajahan Negara Britania.Gandhi dilahirkan di Porbanda;pada tanggal 2oktober 1869.Pada umur 13 tahun,dia menikahi Kasturbai umur 12 tahun.Orang tua mereka yang merancang pernikahan itu.Gandhi dan Istrinya mempunyai 4 anak.

Gandhi pergi ke London untuk belajar hukum.Pada tahun 1891 di kembali ke India.Kemudian dia dan keluarganya pindah ke India.Pada waktu yang bersamaan pula orang-orang Britania memerintah penduduk Afrika Utara dan orang India yang tinggal disana hanya mendapat sedikit hak.Gandhi 20 tahun membantu meraih persamaan hak bagi orang Indian.Dia memutuskan untuk menggunakan jalan perdamaian untuk meraih kebebasan bagi semua orang.Seperti mogok makan atau turun ke jalan.

Gandhi kembali ke India pada tahun 1915.Dia menjadi pemimpin dr pembe rontak untuk mengusir penjajah Britania untuk meninggalkan India.Penjajah Britain memperlakukannya dan pengikutnya dengan buruk,kemudian Gandhi dimasukkan ke penjara.

Akhirnya pada tahun 1945.Penjajah memutuskan untuk meninggalkan India.Kemudian teman Gandhi,Jawaharlal Nehru menjadi perdana mentri